PUASA DAN AKTUALISASI EKONOMI SYARIAH

PUASA DAN AKTUALISASI EKONOMI SYARIAH

Oleh : Agustianto

Sekjen IAEI dan Dosen Pascasarjana UI

Hakikat puasa adalah mengendalikan diri dan hawa nafsu darisegala yang membatalkan nilai pahala puasa. Dengan demikian, puasa juga secarasubstansial bermakna pengendalian diri dari perilaku tercela, seperti mubazzir(berlebih-lebihan) dalam konsumsi, membuka usaha hiburan maksiat (diskotik),dan segala sesuatu yang diharamkan, seperti ghibah, berbohong, berkata keji,korupsi, menerima suap, main judi, dan juga termasuk makan riba (bunga bank).Orang yang berpuasa secara benar pasti berusaha menghindari perbuatan-perbuatanharam tersebut, karena bila perbuatan itu dilakukan, puasanya tidak bernilaisama sekali. Inilah yang disabdakan Nab Muhammad SAW, “Banyak orang yang puasa,tidak mendapatkan nilai apa-apa, kecuali rasa lapar dan dahaga saja.”

Ruang lingkup ekonomi syariah sangat luas, seluas ruang lingkup ekonomikonvensional. Karena itu, ekonomi syariah tidak saja sebatas lembaga keuangandan perbankan saja, tetapi juga tentang produksi,distribusi dan konsumsi, jugatentang moneter, fiskal, manajemen, akuntansi dan sebagainya. Keseluruhanekonomi syariah itu harus kita aktualisasikan dalam kehidupan kesehariansebagai pengamalan syariah Islam di bidang muamalah.Saat ini, kita perlu melakukan evaluasi dan kritik terhadap perilaku kita saatini dalam melaksanakan puasa. Cara pandang kita pun tentang ramadhan perludiluruskan. Fenomena yang terjadi pada bulan Ramadhan adalah terjadinya polakosumsi yang berlebihan, yaitu dengan membeli makanan, minuman, buah-buahansecara berlebihan yang harganya relative lebih mahal dari hari-hari biasanya.

Puasa dan perilaku konsumenPertama-tama, ibadah puasa harus melahirkan setiap sikap hidup sederhana danefisien dalam konsumsi. Sikap hidup sederhana, efisien dan tak berlebih-lebihandalam bulan puasa, terlihat ajaran Nabi Muhammad SAW ketika berbuka puasa. Nabimengajarkan bahwa makanan berbuka puasa cukup dengan seteguk air dan memakansebutir kurma. Sikap dan perilaku itu saat ini hampir hilang dari kehidupanumat Islam, terutama di Indonesia.Saat ini telah menjadi kebiasaan umat Islam memupuk makanan, minuman,buah-buahan, segala macam kue, bubur, kolak dan acara berbuka puasa yangmenunjukkan sikap sidup israf dan tabzir. Perilaku ini jelas bertentangandengan Sunnah Rasulullah dan syariah Islam.

Islam sangat anti terhadap sikap hidup berlebih-lebihan atau mubazzir, karenamubazzir adalah saudara setan. Islam mengajarkan sikap hidup sederhana dalammengkonsumsi barang-barang dan makanan. Dalam al-Qur’an dengan tegas Allahberfirman, “Makan dan minumlah kamu, tetapi jangan berlebih-lebihan.Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”Perilaku israf dan tabzir tidak saja bertentangan dengan syariah atau SunnahRasulullah, tetapi juga menunjukkan sikap hidup individualis dan egois, karenaketika kita menerapkan pola konsumsi israf (berlebihan),masih banyaksaudara-saudara kita yang dilanda krisis ekonomi yang sangat menyedihkan.Padahal kalau kita bisa hemat, maka sisa uang itu bisa digunakan untuk infakatau sedekah kepada para fakir miskin yang memerlukan dana untuk hidup secaralayak.

Belum lagi Ramadhan usai, sebagian sudah sibuk membeli pakaian baru, menyiapkankue dan minuman untuk lebaran dan merencanakan rekreasi lebaran. Inilahperilaku konsumen muslimin yang harus diluruskan secara bertahap.Selain itu, dalam konteks ini kita perlu merenungkan salah satu hikmah puasa.Apabila kaum muslimin meningkatkan konsumsi selama Ramadhan, maka secaraagregat, harga-harga akan naik dan hal ini sangat berpotensi untuk mewujudkaninflasi. Padahal inflasi adalah suatu realita yang tidak diinginkan. Bila halini terjadi, maka dampak puasa menjadi negatif, yakni menambah tingkatkemiskiskan masyarakat, karena harga-harga menjadi naik dan daya belimasyarakat semakin menurun. Apabila masyarakat menjadi semakin miskin karenaperilaku orang yang berpuasa,Seharusnya di bulan ramadhan, makan menjadi dua kali sehari. Dengan demikian,kaum muslimin mengurangi jatah makan satu kali dalam sehari. Jadi, seharusnyabiaya makan bekurang 1 kali setiap hari. Misalkan biaya 1 kali makan Rp.8.000,-perorang dalam satu keluarga yang berjumlah 6 orang misalnya, maka dalam satuhari terjadi penghematan sebesar Rp.48.000,-. Sisa dana inilah yang seharusnyadiinfaqkan kepada saudara-saudara kita yang masih banyak berada di bawah gariskemiskinan.Bila jumlah keluarga di Medan, misalkan 1.000.000,- keluarga, maka danakelebihan dari penghemaan makan selama puasa berjumlah Rp.24 milyar. Selainadanya penghematan itu, kita bisa mencegah naik harga-harga barang dan bahkaninflasiAl-Quran melukiskan orang-orang beriman sebagai orang yang pertengahan dalam mengkonsumsi,yaitu orang-orang yang ketika membelanjakan harta tidak berlebihan dan tidakkikir, tatapi berada di antara keduanya.Konsumsi berlebihan adalah cirri khas masyarakat materialis yang tidakbertuhan. Sikap berlebihan itu disebut dengan istilah israf (boros). Pemborosanberarti penggunaan harta secara berlebihan, baik makanan, minuman, pakaian,peralatan rumah tangga, kendaraan, media elektronik, dan sebagainya.Bahkan tabzir menurut Dr. Monzer Kahf, pakar ekonomi Islam Pakistan, tidak sajaberarti berlebihan dalam mengkonsumsi barang saja, tetapi juga mempergunakanharta dengan cara yangsalah, seperti penguapan, perjudian, menyumbang untukacara maksiat (keyboard maksiat), dan sebagainya.

Puasa dan petasan

Sehubungan dengan itu, umat Islam dilarang keras memproduksi danmendistribusikan (menjual) dan mengkonsumsi petasan tersebut. Pihak berwajibharus mencegah dan melarang jual-beli petasan, agar tidak bisa dikonsumsi kaummuslimin. Karena dampaknya menimbulkan keresahan bagi masyarakat muslimterutama bagi yang menjalankan ibadah tarawih. Dan karena itu, penggunaan uanguntuk membeli petasan tergolong kepada perilaku mubazzir yang di haramkan.

Puasa dan kejujuranKejujuran dalam bisnis merupakan perilaku terpuji dalam Islam, sehingga Nabi menempatkanpedagang yang jujur sejajar dengan para Nabi, syuhada dan orang-orang shalih.Ramadhan mestinya manjadi momentum paling ampuh untuk melatih kejujuran parapelaku ekonomi. Ibadah puasa berbeda dengan ibadah lain. Puasa adalah ibadahsirryah (rahasia), karma yang mengetahui apakah seseorang itu puasa atau tidakhanyalah dirinya sendiri dan Allah SWT. Tidak ada pengawas atas dirinya selainAllah. Maka meskipun dia sendirian di dalam kamar, dia tidak akan minum, karenaAllah selalu mengawasinya. Dengan demikian puasa sangat efektif melatihkejujuran. Bila kejujuran telah menjelma dalam diri orang yang berpuasa, makadia tidak akan melakukan kebohongan, manipulasi dan perilaku yang berbau KKNlainnya dalam kegiatan ekonominya. Inilah yang dikehendaki ekonomi syariah.

Puasa dan perilaku ribawiSebagai orang yang beriman yang sedang melaksanakan puasa, berekonomi dengansystem syariah adalah suatu keharusan, apalagi orang yang kualitas puasanyapada tingkatan khawash atau khaaswhul khawas. Alangkah anehnya, bila kitaberpuasa secara sungguh-sungguh, tapi riba (bunga) kita amalkan dalam praktekekonomi kita. Puasa kta lakukan secara Islam, tapi dalam masalah ekonomi kitaamalkan sistem riba yang diimport dari sistem kapitalis yang telah merusaktatanan ekonomi dunia, termasuk Indonesia.Hukum bunga bank saat ini sudah jelas tidak sesuai dengan syariah Islam.Seluruh pakar ekonomi syariah di dunia saat ini telah sepakat dan ijma tentangkeharaman bunga bank. Kesepakatan itu malah telah menjadi Ijma’ ulama sedunia.Dulu sebelum bank syariah lahir di dunia ini, masih ada ulama yangmemperbolehkan bunga bank dengan alasan darurat. Dengan hadirnya bank syariahtanpa bunga, maka segelintir pendapat yang membolehkannya menjadi batal. Karenaitu saat ini tidak ada satupun ulama pakar ekonomi Islam membolehkan bungatersebut, kecuali ustadz yang tak faham ekonomi syariah atau ketinggalaninformasi keilmuan tentang Islamic economic and finance serta perkembanganspektakuler perbankan syariah tanpa bunga.Maka, melalui puasa yang kita laksanakan ini, menjadi keharusan bagi kita untuksecara bertahan mengamalkan sistem ekonomi syariah. Salah satu cara palingmudah adalah mengalihkan tabungan dan deposito dari bank ribawi ke bank syariahyang berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah. Apabila ONH dan dana kaum musliminlainnya, seharusnya dikelola umat Islam sendiri secara syariah. Dengan demikianbarulah tujuan puasa membentuk manusia takwa dapat terwujud.Orang yang bertakwa tidak mau memakan riba yang diharamkan dan dikutuk Allah SWT.Bagi orang yang telah terlanjur bekerja di bank ribawi tersebut, banyaklahminta ampun di bulan Ramadhan dan berdoalah kiranya bank tempat dia bekerjaberubah menjadi bank syariah atau membuka cabang syariah, seperti yangdilakukan Bank Mandiri, BNI 46, BTN, Bank Susila Bakti,.Keniscayaan berekonomi secara syariah ini, lantaran penerapannya mempunyaimanfaat yang besar, baik bagi pengamalnya, maupun jamaah kaum muslimin secarakeseluruhan.1. Menerapkan dan mengamalkan sistem ekonomi syariah adalah upaya untuk menjadipemeluk Islam secara kaffah.2. Menerapkan dan mengamalkan sistem ekonomi syariah mendapatkan duakeuntungan, duniawi berupa bagi hasil, keuntungan akhirat pahala ibadah melaluiekonomi dan terhindar dari dosa riba. Bagi nasabah yang memiliki modal(aghniyak), menanam saham di Lembaga Keuangan Islam, tidaklah berkembang secaraekonomis, sebagaimana dalam sistem ekonomi konvensional.3. Menerapkan dan mengamalkan sistem ekonomi syairah berarti melepaskan diridari mainstream riba yang diharamkan dan terbebas dari segala unsur syubhat.4. Memajukan ekonomi syariah lewat bank syariah, MLM Syariah, Ahad-NetInternational, BMT (Balai Usaha Mandiri Terpadu-Baitul Maal Wat Tamwil), BPRS,dan Asuransi Takaful, berarti umat Islam berupaya memajukan ekonomi umat Islamsekian lama terpuruk. Menabung di bank syariah dan membeli produk-produkmuslim, berarti kita berupaya mengentaskan kualitas ekonomi kerakyatan.5. Pemberdayaan dan peningkatan ekonomi umat berimplikasi terhadap kemajuanumat Islam di segala bidang, seperti pendidikan atau SDM, sebab kondisi ekonomiyang tinggi mempengaruhi tingkat pendidikan sehingga melahirkan sumber dayamanusia berkualitas.

PenutupPuasa bertujuan membentuk manusia yang bertakwa, jauh dari perilaku dan sifatyang tercela dan terhindar dari segala unsur yang diharamkan seperti perilakuisraf, memproduksi barang haram, perilaku riba, dan sebagainya. Jadi, bila adaorang yang berpuasa tetapi masih melakukan pola konsumsi yang sukaberlebih-lebihan, tidak jujur dalam bisnis, mempraktekkan bunga bank, makapuasanya hanya pada tingkatan paling rendah dan belum mencapai derajat khawashsedikitpun, sehingga jauh dari derajat takwa. Sebab, bagaimana mungkin diamenerima predikat takwa dan puasanya diterima Allah sedangkan dia masih maumakan bunga uang yang diharamkan. Karena itu jalan terbaik adalah memasukkanuang di bank syariah baik yang telah dikembangkan pemerintah maupun swasta.Bila di daerah anda belum ada bank syariah atau lembaga keuangan syariahlainnya, dirikanlah lembaga-lembaga keuangan itu, dengan menyatukan kekuatanpara aghniyak, ulama, cendikiawan, pemerintah dan genarasi muda militan yangmemiliki integritas, motivasi dan keahlian dalam bidang ekonomi.



Komentar ditutup.