MODEL DAN SKIM INOVASI PRODUK PERBANKAN SYARIAH

MODEL DAN SKIM INOVASI PRODUK PERBANKAN SYARIAH

Oleh : Agustianto

Tak bisa dibantah, bahwa inovasi produk menjadi kunci perbankan syariah untuk  lebih kompetitif dan lebih berkembang dengan cepat sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Inovasi produk harus menjadi strategi prioritas bagi bank-bank syariah , sebab inovasi  memiliki peran penting di tengah pasar yang kompetitif. karena itu industri perbankan syariah harus dapat terus melakukan inovasi-inovasi baru. Keberhasilan sistem perbankan syari’ah di masa depan  akan banyak tergantung kepada kemampuan bank-bank syari’ah menyajikan produk-produk yang menarik, kompetitif dan memberkan kemudahan transaksi, sesuai dengan kebutuhan masyarakat..Berikut  akan dipaparkan sebagian skim dan  model inovasi produk bank-bank syariah. Salah satu produk yang bisa dikembangkan di bank syariah adalah syirkah mutanaqishah. Syirkah mutanaqishah dapat digunakan untuk pembiayaan properti, agar pricenya bisa kompetitif dengan konvensional. Hal ini dikarenakan murabahah kurang tepat untuk pembiayan properti dengan tenor panjang, 7 sd 15 tahun. Penerapan murabahah untuk properti dengan tenor jangka panjang tersebut, sudah dipandang kuno dan lebih beresiko dalam  menghadapi fluktuasi pasar.   Maka solusinya adalah syirkah mutanaqishah yang sudah difatwakan DSN melalui fatwa DSN No 73/2009. Namun fatwa inipun sebenarnya masih kurang lengkap, karena  hanya memfatwakan 1 model syirkah mutanaqishah. Padahal menurut studi fiqh muamalah kontemporer yang lebih luas, setidaknya terdapat enam model (bentuk) syirkah mutanaqisihah, Sayangnyanya, syirkah mutaqishah yang satu  model ini pun belum banyak dipahami para bankir syariah, apalagi  untuk memahami penerapan enam model syirkah mutanaqishah lainnya. Di sinilah diperlukan workshop dan traiining kpada para pejabat dan bankir bank-bank syariah.

Contoh berikutnya, ialah akad kartu kredit di Indonesian hanya kafalah bil ujrah dan qardh wal ijrah dengan dasar fatwa DSN, sesuai fatwa DSN MUI No 54/Tahun 2006. Padahal design kontraknya menurut praktek international setidaknya ada 7 (tujuh) alternatif kontrak akad (baca buku Al- Muamaalh al-Mu’ashirah, tulisan Usman Tsabir). Dengan altenatif  seperti itu, maka produk kartu kredit bank syariah bisa lebih banyak dan variatif. Namun saat ini, kartu ktredit baru dikeluarkan oleh dua bank syariah, yaitu bank danamon syariah dan bank BNI Syariah.

Contoh berikutnya, ialah design akad pembiayaan take over atau pengalihan hutang. Menurut fatwa DSN MUI No 31/Tahun 2002, ada empat alternatif kontrak, namun dalam prakteknya banyak bankir syariah yang tidak memahami dengan baik konsep dan penerapannya, sehingga penerapannya di lapangan mengalami penyimpangan. Hasil penelitian ilmiah di  empat bank syariah di Jakarta, menunjukkan hampir 80 % design akad pembiyaan take over tidak sesuai dengan syariah. Kesulitan memahami design akad ini dikarenakan semua akadnya merupakan hybrid contract (al-‘ukud al-murakkabah). Penelitian mahasiswa pascasarjana di Universitas Indonesia tahun 2008 tersebut disusun dalam bentuk thesis yang pembimbingnya adalah saya sendiri. Dengan demikian saya memahami persis bagaimana prakteknya di lapangan berdasarkan penelitian tersebut.

Untuk pembiyaan take over properti, terdapat empat pilihan design akad yang kesemuanya adalah kombinasi banyak akad (al-‘ukud al-murakkabah).   Untuk memahami dan menerapkan empat alternatif akad saja, para bankir banyak yang tidak mengerti, bagaimana pula dengan inovasi produk yang lebih luas. Berdasarkan kajian yang lebih luas dan mendalam, design kontrak pembiayaan take over sebenarnya ada enam alternatif, bukan empat alternatif, yakni dengan tambahan syirkah mutanaqishah dan hiwalah itu sendiri.  Syirkah mutanaqishah ini terbagi lagi  kepada 6 bentuk dan model kontrak. Dengan demikian, untuk pembiyaan take over properti atau lainnya bisa memilih 11 alternatif akad. Sayangnya, materi syirkah mutanaqishah ini belum masuk dalam silabus hampir seluruh pascasarjana ekonomi Islam di Indoensia dan belum banyak ditrainingkan di bank-bank syariah..

Contoh selanjutnya ialah, bahwa produk funding yang ada di Indonesia hanyalah mudharabah dan wadiah,yang dikembangkan menjadi tabungan depositi dan giro.  Padahal setidaknya ada tujuh alternatif yang bisa dipilih untuk dikembangkan, yaitu pertama, deposito wakalah bil ujrah, kedua, deposito musyarakah, ketiga, kombinasi mudharabah dan wadiah, yaitu tabungan dan giro  aotomatic transfer mudharabah dan wadiah. Selanjutnya, yang keempat, kombinasi giro wadiah dan qardh, kelima, mudharabah muqayyadah untuk murabahah dan keenam, mudharabah muqayyadah untuk murabahah commodity. Dan terakhir (ketujuh) ialah  mudharabah muthlaqah untuk tabungan biasa. Pilihan ketujuh ini yang paling banyak diterapkan di Indonesia, selain giro wadiah.

Selanjutnya tak bisa dipungkiri, bahwa dalam pembiayaan, bank syariah banyak menerapkan murabahah, sebagai produk dominan. Padahal dalam jual beli dapat juga dikembangkan bay’ mustarsal, bay’ taqsith,  bahkan bay wafa’,  bay istighlal dan bay tawarruq. Kajian mendalam harus dilakukan kepada bay’ tawarruq menurut para ulama, sehingga tidak secara gampang memutuskan bentuk akad tawarruq ini dilarang. Banyak sekali literatur mu’tabar yang membolehkan bentuk akad ini. Jumhur ulama juga membolehkannya. Sedangkan bay’ al-‘inah jelas sekali larangan tentangnya, sehingga tidak bisa diterapkan. Malaysia yang banyak menerapkannya ternyata salah kaprah dalam mengutip pendapat Imam Syafi’iy dan Daud Zhahiry. Untung saja beberapa tahun belakangan ini mereka menyadari kekeliruannya dan berupaya keras mengurangi produk bay al-inah secara drastis.  (Baca materi kuliah saya yang sangat panjang membahas bay’ al-‘inah ini), Jadi Indonesia tidak bisa menerima konsep bay’ al-‘inah dalam pengembangan dan inovasi produk perbankan syariah.

Contoh pengembangan produk berikutnya ialah dengan mengembangkan konsep syirkah kontemporer. Bentuk-bentuk syirkah yang diajarkan di kampus-kampus dan yang terdapat dalam buku rujukan yang ada selama ini di Indonesia, adalah bentuk-bentuk  syirkah pada abad kedua hijryah yaitu syirkh inan, syirkah mufawadhah, syirkah abdan dan syirkah wujuh. Padahal kita sudah hidup di abad 15 Hijriyah. Bentuk-bentuk akad itu adalah fenomena yang ditemukan ulama pada masanya di masa klasik Islam.  Sayangnya,  hampir semua  buku bank syariah dan fiqh muamalah di Indonesia menjelaskan bentuk syirkah yang empat itu. Sebagian besar ahli bank  syariah dan ahli fiqh Indonesia,  mencocok-cocokkan saja empat model itu dengan praktek keuangan moderen. Inilah suatu kesalahan besar.

Model-model fiqh muamalah terus berkembang sesuai dengan  pekembangan zaman dan lokasi geografis. Bentuk-bentuik syirkah di zaman modern ini demikian banyak, seperti syirkah mutanaqishah, syirkah muhashah, syirkah tadhamun, syirkah mushana’ah, syirkah muntahiyah bittamlik, syirkah ta’awuniyah, syirkah musahamah, syirkah taushiyah, mudharabah musytarakah dan lain-lain. Luar biasa kekayaan bentuk-bentuk syirkah yang bisa dipilih yang relevan  untuk diterapkan bank syariah. Sementara yang diterapkandi Indoensia secara dominan baru syirkah ‘inan. Sedangkan syikah mutaqasihah dan  bentuk syirkah lainnya  belum banyak diterapkan. Karena itu training dan workshop bagi bank-bank syariah mutlak dilakukan.

Bentuk-bentuk mudarabah juga sangat variatif dan terus berkembang. Jika di masa Nabi Muhammad Saw, hanya terdapat 1 model mudharabah, tetapi di masa kini  bentuk mudharabah sudah menjadi lima macam, yaitu mudharabah bilateral, mudharabah multilateral, mudharabah muwazi, mudharabah musytarakah dan Mudharabah Muntahiyah bi Tamlik.

Untuk pembiyaan pertanian, di benak para bankir pada umumnya hanya ada bay’ salam, yakni salam paralel. Namun belum ada satu bank syariah pun yang memilih skim ini, meskipun sudah ada fatwa DSN sejak tahun 2000.  Bentuk skim salam paralel tidak realistis dan tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat konsumen. Akibatnya, bank syariah tidak berani memasuki sektor agribisnis  atau pertanian, selain beresiko juga karena  di benak mereka, hanya ada skim bay’ salam saja. Bay’ salam yang ada di fatwa DSN dan buku-buku yang berkembang di Indonesia sangat sulit terjadi dan  kaku. Harusnya skim bay salam bisa dirancang berdasarkan prinsip syariah, bukan melalui salam paralel sebagaimana dalam buku  Muhammad Syafii Antonio dan Wahbah az-Zuhayly dalam  buku Fiqh Muamalah Mu’ashriah.  Literatur itu tidak relevan dan tidak realistis. Seandainya skim salam ditambah dengan bay muthlak, persoalannya sudah selesai. Penerapan bay’ salam dan bay muthlak adalah pilihan skim yang realistis dan kecil resiko. Di berbagai negara, skim untuk pertanian sangat variatif, sehingga memungkinkan bagi bank syariah untuk masuk ke sektor ini, selain bay’ salam juga bisa  kombinasi  akad syirkah milik, ijarah an bay’.

Produk bank syariah di manca negara

Masih banyak lagi, pengembangan dan inovasi produk yang bisa dilakukan bank-bank syariah. Berikut ini akan dipaparkan bentuk-bentuk dan variasi skim-skim produk bank syariah yang sudah diterapkan di berbagai negara.

A.    Financing Products, Setidaknya terdapat 30 skim pembiayaan syariah, yaitu :

1. Car Financing : al ijarah tsummal bay’.

2. Home Financing Bay bi tsamabil ajil

3. Home financing musyarakah mutanaqishah dan ijarah muntahiyah bit tamlik

4. Islami Card tawarruq

5. Islamic card bay al-inah

6. Personal Financing murabahah

7. Personal Financing tawarruq

8. Personal Financing bay al-‘inah

9. Agricultural implements  investments : syirkah al-milk, ijarah, bay’

10. Micro industries investment: syirkah al-milk, ijarah, bay’

11. Islamic overdraft (Cash line facility) : BBA dan bay al-inah

12. Cash line facility : bay bitsamanil ajil

13. Revolving Financing : bay’ bitsamanil ajil

14. Revolving Financing mudharabah

15. Term Financing Fixed and Variabel Rate : bay bitsamanil ajil

16. Industrial Hire Purchase : al-ijarah tsumma al bay’

17. Hire purchase syirkah milk, ijarah dan bay’

18. Unsecured business Financing ; tawarruq

19. Working capital and Term Financing : tawarruq

20. Export Credit Refinancing : bay’ dayn

21. Export Credit Refinancing : murabahah

22. Export Credit Refinancing :murabahah dan bay’ dayn

23. Export Financing – musyarakah

24. Forward Rate Agreement : musyarakah

25. Profit Rate Swap : Murabahah

26. Islamic Treasury Instrument : Salam paralel

27. Islamic Sukuk Intrument wakalah bil ujrah

28. Pembiayaan dengan penjaminan (kafalah, dhaman dan rahn)

29. Share Financing : murabahah (trading)

30. Share Financing (investment).

B. Sedangkan untuk penyediaan jasa terdapat delapan produk

31. Escow account – wakalah bil ujrah

32. Shipping Guarantee – kafalah

33. Documentary Crdit – wakalah bil ujrah

34. Billls for collection outward – wakalah bil ujrah

35. Billls for collection intward –wakalah bil ujrah

36. Islamic will (surat wasiat) : wakalah bil ujrah

37. Adminisrasi asset : wakalah bil ujrah

38. Islamic Trust – wakalah bil ujrah

C. Untuk funding product terdapat 8 produk

39. Deposito mudharabah muqayyadah untuk murabahah

40. Deposito mudharabah muqayyadah untuk murabahah commodity

41. Deposito dan Reksadana mudharabah

42. Deposito musyarakah

43. Deposito unrestricted Recuring Investment – mudharabah

44. Deposito wakalah bil ujrah

45. Giro wadi’ah dan qardh

46. Tabungan dan Giro Automatic ransfer – mudharabah & wadiah

Sebagian besar produk-produk di atas dapat menjadi contoh untuk diterapkan di Indonesia, kecuali bay al-‘inah, Selain produk di atas, masih banyak produk yang dapat dikembangkan di bank-bank syaraih berdasarkan studi kreatif terhadap fiqh mumalah kontemporer sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas. Jika konsep pengembangan doktrin muamalah ini yang dikembangkan maka, variasi inovasi produk makin kaya dan beragam secara luar biasa..

Penulis adalah Sekjen Ikatan Ahli Ekonomi islam Indonesia, Dosen Pascasarjana PSTTI Universitas Indonesia, Pascasarjana Islamic Economics and Finance  Trisakti, Pascasarjana Universutas Paramadina dan Pascasarjana UI Az-Zahra.

 

Komentar ditutup.