INOVASI PRODUK PERBANKAN SYARIAH

INOVASI PRODUK PERBANKAN SYARIAH

Bagian 3 – Penutup

Oleh : Agustianto

Hybrid  Contract.

Di era transkasi keuangan modern yang semakin kompleks, dibutuhkan design kontrak akad dalam bentuk kombinasi beberapa akad yang disebut dengan  hibryd contract (multiakad), atau biasa disebut al-ukud al-murakkabah. Bentuk akad tunggal sudah tidak mampu meresponi transaksi keuangan kontemporer.Dr.Mabid Al-Jarhi, mantan direktur IDB pernah mengatakan, kombinasi akad di zaman sekarang adalah sebuah keniscayaan. Cuma masalahnya, literatur ekonomi  syariah yang ada di Indonesia sudah lama mengembangkan teori bahwa syariah tidak membolehkan dua akad dalam satu transaksi akad (two in one). Padahal, larangan two in one terbatas dalam tiga kasus saja sesuai dengan sabda-sabda Nabi Muhammad Saw yang terkait dengan itu. Two in one tidak boleh diperluas kepada masalah lain yang tidak relevan dan tidak pas konteksnya. Para dosen, ahli ekonomi syariah, dan bankir syariah harus mempelajari secara mendalam pandangan ulama tentang akad two in one dan al-‘ukud al-murakkabah, agar pemahaman terhadap design kontrak syariah lebih komprehensif, dinamis dan tidak kaku. Kekakuan itu bisa terjadi karena kedangkalan metodologis syariah dan kelangkaan litaratur. Buku-buku  fiqh muamalah kontemporer yang membahas permasalahan hybrid contract (kombinasi akad) antara lain, Al-‘Ukud al-Murakkabah fi Fiqh al-Islami, karya, Nazih Hammad, Damaskus 2005),  juga buku  al-‘Ukud al-Maliyah al-Murakkabah oleh al-‘Imrani,

Untuk itu perbankan syariah, harus memperbaiki diri dalam peningkatan kualitas SDM-nya dengan melaksanakan training dan workshop intensif mengenai inovasi produk. Selain itu, para bankir bank syariah bisa mengikuti kuliah S2 (pascasarjana) ekonomi syariah konsentrasi perbankan syariah. Waktu kuliahnya jumat malam dan hari sabtu. Di Jakarta, kita sudah mengembangkan S2 ekonomi Islam di banyak Perguruan Tinggi, seperti S2 Manajemen Perbankan dan Keuangan Islam Universitas Paramadina, S2 Islamic Economic and Finance Univertsitas Trisakti, S2 Ekonomi syariah Universitas Indonesia (UI), S2 Ekonomi Islam Universitas As-Zahra. Daerah lain seharusnya sudah melakukan kegiatan akademis yang sama. Minimal setiap propinsi terdapat sebuah Perguruan Tinggi yang membuka program S2 ekonomi syariah yang mengikuti perkembangan keuangan modern.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam melakukan inovasi produk.

Pertama, Inovasi produk sejatinya dikembangkan dengan dukungan teknologi informasi dan telekomunikasi yang semakin canggih, sehingga mempermudah urusan konsumen dan meningkatkan efisiensi kegiatan usaha para konsumen. Tanpa teknologi canggih, bank-bank syariah akan kalah bersaing dengan bank-bank konvensional. Transaksi perbankan secara elektronik telah menjadi kebutuhan yang tak terelakkkan. Sebuah  bank swasra raksasa nasional, disinyalir  telah melukan transaksinya sebanyak 70 % secara elektronik. Kita menyadari bahwa biaya teknologi memang tinggi, karena itu, bagi Unit Usaha Syariah dapat mengunakan fasilitas bank induknya, sehingga lebih efisien. Bank-bank umum syariah dapat melakukan sinergi produk bersama. Upaya ini semestinya dilakukan bank-bank syariah, jangan ingin menang dan menonjol sendiri. Harap dicatat, bahwa asset bank-bank syariah masih terlalu kecil, berhadapan dnegan bank-bank konvensinal, karenanya gerakan bersama perlu dilakukan. Produk shadr yang dikembangkan Ahmad Riawan Amin,Ketua Asbisindo, perlu diperluas dan ditingkatkan ditambah promosi bersama secara berkelanjutan. Namun kerjasama ini masih terbatas, diperlukan terobosan baru yang lebih besar. Sinergi ini akan membawa dampak positif bagi pengembangan bank syariah, Belajarlah dari filsafat lidi, bersatu dan bersama-sama akan menjadian bank syariah itu semakin kuat dan besar.

Kedua, keharusan memahami karakter bisnis sektor riil. Peningkatan kualitas SDM tidak saja dari aspek keilmuan syariahnya di bidang fiqh muamalah, ushul fiqh, qawaid fiqh dan maqashid syariah, tetapi juga dari bidang bisnis yang lain, seperti pemahaman yang baik tentang karakter dan  resiko binsis sektor riil. Jadi, Supaya produk bisa berkembang perlu adanya peningkatan pemahaman bankir akan sektor riil secara variatif, perdagangan (traiding), industri manufaktur,  infra struktur, pertambangan, telekomuniaksi, properti, pertanian dengan segala macam karakter dan resikonya, peternakan, perikanan, dsb. Pokoknya SDM bankir syariah harus disiapkan untuk memahami segala macam bisnis sektor riil tersebut.  Pengembangan produk bank syariah ke sektor riil,   sangat  penting karena bisa melindungi perekonomian domestic dan meningkatkan kemampuan ekonomi rakyat. Selain itu, hubungan kemitraan dan linkage dengan LKM syariah harus terus digalakkan dan dikembangkan dengan berbagai skim produk.

Ketiga, Untuk mengembangkan produk-produk yang bervariasi dan menarik, bank syari’ah di Indonesia dapat membangun hubungan kerjasama atau berafiliasi dengan lembaga-lembaga keuangan internasional. Kerjasama itu akan bermanfaat dalam mengembangkan produk-produk bank syari’ah. Bank syariah bisa belajar praktis kepada bank-bank yang telah berpengalaman di luar negeri di berbagai negara yang mengembangkan perbankan syariah setidaknya terdapat  30 bentuk dan model pembiyaan  dan 8 pembiayaan untuk bidang jasa perbankan. Skim dan model ini setidaknya bisa menjadi contoh atau memberi inspirasi untuk mengembangkan produk bank syariah.

Keempat, dalam melakukan inovasi produk diperlukan efisiensi dan efektivitas dalam mengembangkan produk bank syariah. Inovasi produk  harus memperhatikan aspek price sehingga tetap bisa bersaing dengan price bank konvensional,

Kelima, dalam melakukan inovasi produk perlu diperhatikan pencitraan, positioning dan , diferensiasi. Pencitraan adalah menampilkan dan menunjukkan bahwa bank syariah sebagai sebuah lembaga yang bukan sekedar bank, tetapi jauh daripada itu. Ada tiga faktor penentu yang menentukan pecitraan bank syariah, pertama menujukkan unievrsalitas, terbuka dan inklusif. Dan menggunakan komuniasi produk yang gampang di mengeri tanpa meinggalkan ciri khas bank syariah. Kedua, mengembangkan produk-produk baru yang lebih beragam dan skema keuanganyang lebih bervariasi. Ketiga, memiliki people dan fasilitu yang menungkinkan keunikan produk yang bisa dinimati kapan pun dan dalam jankauan yang luas. Jaringan harus luas.

Keenam, dalam melakukan inovasi produk, terutama produk  yang berasal dari lura negeri  atau dari pengembangan fiqh muamalah kontemporer,  harus mengusulkan  pemberian fatwa dari Dewan Syariah Nasional DSN MUI.

Penulis adalah Sekjen Ikatan Ahli Ekonomi islam Indonesia, Dosen Pascasarjana PSTTI Universitas Indonesia, Pascasarjana Islamic Economics and Finance  Trisakti, Pascasarjana Universutas Paramadina dan Pascasarjana UI Az-Zahra.

About these ads

Komentar ditutup.